Perkenalkan nama saya Yopi, seorang karyawan swasta yang ditugaskan di Lampung. Saya adalah salah satu penggemar buku “Modal Dengkul, Untung Sebakul”. Sungguh sebuah buku yang sangat inspiratif sehingga memacu semangat saya untuk segera do action!
Ada beberapa hal yang saya ingin tanyakan yang sudi kiranya Mas Ari dapat menolong saya yaitu mengenai:
1. Dengan kondisi saya berada di Lampung bisnis franchise apa yang paling tepat saya jalankan ? 2. Dengan dana 10 juta apakah lebih baik saya mencoba buka usaha sendiri ataukah mengambil jalur aman lewat jalur waralaba? 3. Apabila segmentasi pasar yang saya incar adalah hampir semua kalangan kira-kira waralaba seperti apa yang paling tepat untuk dipilih dengan kondisi saya menyukai waralaba makanan/minuman.
Demikian pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepada Mas Ari. Saya ucapkan terima-kasih semoga Mas Ari bertambah sukses di masa depan.
Wassalam
Yopi Oktavianus, Lampung (
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
)
Jawaban:
Salam sukses juga Mas Yopi....!!!
Syukur deh kalau buku saya bermanfaat bagi Anda dan semoga juga banyak
memberikan manfaat buat seluruh masyarakat Indonesia. Saya akan jawab
pertanyaan Anda ya.
1. Bisnis franchiseapa yang paling tepat dijalankan dengan posisi berada di Lampung?
Dalam konsep bisnis modal dengkul, sebetulnya di mana pun Anda bisa
menjalankan bisnis apa saja yang Anda inginkan. Karena konsep yang
pakai adalah menciptakan kebutuhan dan bukan sekedar memenuhi
kebutuhan. Banyak contoh bisnis-bisnis waralaba lokal (yang diawali
dari daerah) dan itu semua diawali dengan menciptakan kebutuhan.
Jadi menurut saya, ciptakan saja sebuah produk lokal dan bahkan bisa
juga dari makanan tradisional setempat, kemudian berikan nilai lebih
dari produk tersebut secara kreatif dan inovatif. Kita bisa ambil
contoh betapa “dahsyat”-nya sebuah singkong. Sudah berpuluh-puluh tahun
dan bahkan mungkin ratusan tahun lalu singkong jadi makanan
sehari-hari orang pedesaan dan boleh dikategorikan makanan sederhana
yang harganya sangat murah dan mudah didapat. Yah, tentu saja kalau
kita hanya berjualan singkong rebus atau singkong goreng dan dijual di
depan rumah dengan menaruhnya dipiring maka keuntungan yang didapatkan
jelas sangat kecil. Tapi, jika kemudian singkong itu diolah secara
kreatif dan inovatif, menjadi krispi singkong, singkong goreng rasa
moka, kripik singkong rasa sapi, dll. Ini bisa menaikkan nilai jual 10
kali lipat. Dan, tentu saja jenis makanan yang sederhana ini bisa jadi
makanan mahal dan berkelas.
Nah, untuk mendukung hal tersebut perlu didukung dengan kemasan yang
bagus dan brand yang kuat. Saya rasa hal tersebut tidak sulit
dilakukan. Jadi, cari saja produk-produk makanan tradisional di daerah
Lampung dan kemudian berikan sentuhan “nilai tambah” terhadap produk
tersebut.
2. Dengan uang 10 juta, lebih baik buka usaha sendiri atau menjadi mitra usaha waralaba?
Uang 10 juta sudah lebih dari cukup untuk memulai usaha, baik itu
membuka usaha mandiri maupun bergabung menjadi mitra waralaba
perusahaan lain. Memang, salah satu cara untuk mempercepat perkembangan
usaha adalah dengan menerapkan pola usaha waralaba. Maksud saya Anda
suatu saat harus memiliki usaha yang di waralabakan, karena dengan cara
ini Anda akan memiliki potensi penghasilan 10 x lipat dibandingkan
membuka usaha secara konvensional.
Untuk tahap awal saran saya, pecah saja modal Anda menjadi dua. Yang 5
juta gunakan untuk merintis usaha sendiri (yang suatu saat nanti
direncanakan menjadi bisnis waralaba) dan yang 5 juta.., cobalah Anda
bergabung ke salah satu perusahaan waralaba. Jadi, dalam hal ini Anda
akan memiliki 2 jenis usaha . Yang satu Anda mengelola sendiri dan yang
kedua Anda bergabung menjadi mitra usaha waralaba orang lain. Ini perlu
saya sampaikan karena, jika Anda terburu-buru langsung membuka usaha
waralaba, tanpa mempelajari seluk beluk bisnis waralaba dengan segala
problematikanya maka yang akan terjadi adalah bisnis Anda akan cepat
booming dan sekaligus cepat jatuh. Ini yang sebetulnya harus dihindari.
Cukup banyak pengusaha yang sangat ”terburu-buru” membuka usaha dengan
konsep waralaba—sangat ekspansif membuka outlet-outlet baru—tapi
ternyata tidak diimbangi dengan kemampuan pengelolaan yang baik, ya...,
akhirnya bisnis-bisnis waralaba seperti itu hanya akan hidup “seumur
jagung”. Saya tidak ingin Anda mengalami hal itu.
Siapkan saja sejak awal bahwa bisnis Anda adalah bisnis waralaba.
Namun, jangan diterapkan terlebih dulu sebelum Anda siap dan menguasai
seluk beluknya. Oleh karena itu, saya sarankan Anda untuk menggunakan
modal yang 5 juta untuk bergabung menjadi mitra usaha waralaba lain
agar Anda bisa belajar dari situ. Jika gagal? No Problem! Anggap saja
uang yang sudah Anda keluarkan sebagai biaya “pelatihan” bagi Anda dan
saya yakin ilmu yang Anda dapat jauh lebih mahal daripada uang 5 juta
yang sudah Anda keluarkan. Berarti bangkrut dong? Enggak! Karena Anda
masih punya satu lagi usaha yang Anda kelola sendiri. Nah, pelajaran
dari bergabung sebagai mitra waralaba itulah yang bisa Anda gunakan
sebagai modal untuk membangun bisnis waralaba sendiri.
3. Waralaba apa yang memiliki segmentasi luas?
Salah satu cara paling praktis agar bisnis bisa langsung jalan dengan
cash flow harian adalah membuka usaha yang berkaitan dengan kebutuhan
pokok manusia yaitu makanan. Yah, waralaba jenis makanan lah yang
memiliki potensi paling besar untuk sukses dan dengan margin keuntungan
yang cukup besar (bisa 40-100% dari modal).
Nah, sekarang Anda harus pecah lagi, makanan jenis apa yang disukai
oleh berbagai kalangan seperti anak-anak, orang dewasa, dan orang-orang
tua. Dan kemudian Anda jaga harus mempertimbangkan lagi bahwa jenis
makanan tersebut selain disukai semua kalangan juga bisa dinikmati
kapan saja orang mau (pagi, siang, atau malam). Hal-hal itulah yang
harus Anda cermati Mas Yopi.
Jadi, silakan Anda bikin check list jenis-jenis makanan kemudian Anda
pilih berdasarkan kriteria tersebut. Kalau boleh saya kasih contoh,
jenis-jenis makanan yang memiliki segmentasi luas adalah mi ayam,
bakso, nasi goreng, es teler, dan masih banyak lagi.
Pemutakhiran Terakhir ( Thursday, 18 September 2008 )
Berbekal gelar D3 Teknik Sipil Universitas Katholik Parahyangan Bandung, Yusep Arif R. Kamaludin kemudian melanjutkan jenjang pendidikannya ke program S1 Teknik Arsitektur ITENAS. Kecintaan dan kemahirannya dalam dunia rancang bangun tidak lantas berhenti pada tataran pendidikan saja. Ia pun menuangkan segala ide dan kreativitasnya melalui bangunan-bangunan gedung ataupun rumah yang telah dibuatnya.
Salim Kartono mengawali karier sebagai salesman di sebuah perusahaan elektronik di Medan. Pada 1976, Salim Kartono hijrah ke Jakarta. Ia bekerja sebagai Assistant Marketing Manager di Telesonic Group, kemudian diteruskan di PT Wijaya Indonesia Plastic Industry sebagai direktur. Pada 1983, langkah emasnya dimulai.