|
Tionghoa dalam Pusaran Politik |
|
|
|
|
Written by Newsroom
|
|
Friday, 27 June 2008 |
Jauh
sebelum orde baru, diskriminasi dan peminggiran kaum Tionghoa di
Indonesia telah terjadi. Bermula sejak penjajah Belanda mencium bau
keharmonisan antara penduduk pribumi dengan etnis Tionghoa. Belanda
menyebut kedekatan mereka sebagai "duri." Lewat politik devide et
impera, aroma sengit yang berbau rasialis ditebarkan di antara penduduk
setempat dengan etnis Tionghoa. Alhasil, hubungan antar penduduk
setempat dengan etnis Tionghoa pun menegang dan merenggang. Bahkan sisa-sisanya masih terasa hingga kini.
Pasca kemerdekaan RI, tepatnya pada Maret 1963, kerusuhan anti Tionghoa
terjadi di Cirebon hingga menjalar ke Bandung. Aksi kerusuhan
anti-Tionghoa ini menjalar juga di Garut, Tasikmalaya, Cianjur, Bogor,
dan Sukabumi. Peristiwa 10 Mei di Bandung menyebabkan kerugian materiil
500 toko, ratusan juta rupiah dan puluhan mobil terbakar. Gerakan anti
China (Germani) sempat juga menjalar di Purwokerto.
Di masa Orde Baru, pola-pola diskriminatif pun masih pekat terasa.
Namun setalah dikeluarkannya Keppres No:6/2000 tentang pencabutan
Inpres No:14/1967 tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat China,
etnis Tionghoa bisa bernapas lega. Keppres ini membuka lebar ruang
kebebasan etnis Tionghoa untuk merayakan upacara keagamaan dan adat
istiadat seperti Imlek, Capgomeh, dan sebagainya.
Politik rasial yang dirawat di beberapa zaman ini coba diceritakan
ulang oleh Benny G. Setiono dalam bukunya Tionghoa dalam Pusaran
Politik. Fakta sejarah dan politik yang berasal dari beragam peristiwa
sejak kehadiran etnis Tionghoa hingga aksi-aksi kerusuhan yang berbau
rasialis menjelang lengser Soeharto dijahit secara runut dalam buku
ini.
Dalam buku setebal 1142 halaman ini, Benny menguraikan sisi lain yang
belum terungkap soal etnis Tionghoa. Tentang pemberitaan etnis Tionghoa
yang tidak berimbang-- seperti halnya G30S/PKI--serta tentang
kontribusi etnis Tionghoa pada Indonesia.
Benny G. Setiono adalah peraih Weirtheim Award tahun 2008. Weirtheim
Award diberikan kepada mereka yang telah berkontribusi terhadap usaha
Emansipasi Nasion Indonesia dalam arti yang seluas-luasnya. Hasil studi
dan analisisnya yang terpenting kini diterbitkan kembali oleh
TransMedia Pustaka berjudul TIONGHOA DALAM PUSARAN POLITIK. Sebuah buku
yang mengungkap fakta sejarah tersembunyi orang Tionghoa di Indonesia.
|
|
Last Updated ( Friday, 27 June 2008 )
|
|
Strategi dan Kiat Sukses
 Judul : Awas! Jangan Sampai Modar di Pasar Modal Penulis : Budi Purnomo & Maxi A. Perajaka Ukuran : 11,5 x 19 cm Tebal : 124 halaman Kategori : Nonfiksi—bisnis Harga : Rp23.000,- Sinopsis: Inilah asyiknya bermain saham: cukup telepon atau browsing di internet, menunggu santai di rumah, dan keuntungan pun akan datang dengan sendirinya. Walaupun begitu, berinvestasi dalam bentuk saham—seperti jenis investasi lainnya—tak luput dari risiko. selengkapnya
|

|
|
Profil Penulis
Salim Kartono mengawali karier sebagai salesman di sebuah perusahaan elektronik di Medan. Pada 1976, Salim Kartono hijrah ke Jakarta. Ia bekerja sebagai Assistant Marketing Manager di Telesonic Group, kemudian diteruskan di PT Wijaya Indonesia Plastic Industry sebagai direktur. Pada 1983, langkah emasnya dimulai.
|
|
Read more...
|
Benny G. Setiono, dilahirkan di Desa Ceracas, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan Jawa Barat pada 31 Oktober 1943. Pada 1947, rumahnya dibakar oleh gerombolan yang menamakan diri sebagai laskar rakyat dan kakeknya menjadi korban pembunuhan laskar Hisbullah. |
|
Read more...
|
|