|
Berbagi Ilmu Penerbitan Buku dengan Mahasiswa UNDIP |
|
|
|
|
Written by Newsroom
|
|
Wednesday, 04 June 2008 |
Ruang kreativitas sebenarnya bisa ditemukan dalam dapur penerbitan
buku. Di dapur penerbitan buku, Anda akan menemukan para editor,
desainer, lay outer, dan penulis yang sibuk berdiskusi dalam menemukan
formula yang pas bagi bukunya. Para pekerja perbukuan ini terus
disibukan menggali gagasan untuk menelurkan tema-tema segar dan baru.
Ya, inilah industri media dimana Anda akan menemukan banyak hal dan
banyak rupa, juga ide-ide yang berseliweran akan terjahit dalam bentuk
buku.
Jika mengingat awal sejarah penerbitan, kita tentu akan mengingat mesin
cetak pertama buatan Gutenberg yang serba manual. Ya, lewat temuan
Gutenberg ini, dialektika perkembangan mesin cetak hingga kini kian canggih. Nah, seiring perkembangan zaman, mesin cetak menjadi media
yang cukup ampuh untuk penyebaran informasi. Maka terkait dunia
penerbitan, dengan mesin cetak punya peran yang cukup penting dalam
penggandaan buku secara cepat dan masif.
Seputar kisah dunia penerbitan dan seluk beluknya, dipaparkan Fuad Izzudin
mewakili Kelompok Agromedia pada forum diskusi dan sharing yang digelar
oleh kelompok Agromedia. Acara lesehan santai ini diadakan pada 30 Mei
2008 di Sim-Six Resto Garden, Ngesrep, Semarang. Forum diskusi ini yang
digelar mulai 19.00 WIB, ada berkat kerjasama Agromedia dengan
mahasiswa Himpunan Mahasiswa Arsitektur UNDIP.
Kira limapuluh mahasiswa Universitas Diponegoro dari berbagai jurusan
hadir, yaitu dari Fakultas Teknik Asitektur, Fakultas Sastra dan Ilmu
Bahasa, dan Fakultas Teknik Kimia. Turut pula mendampingi forum
tersebut: Dorothea Rossa, Lukito Adi Maryanto, Valiant Budi Yogi, Dipo
Tanudi, dan Yutika dari kelompok Agromedia.
Aneka warna pertanyaan disuguhkan para mahasiswa untuk para pekerja
buku. Ternyata tema penerbitan cukup mengundang rasa ingin tahu dan
mendapat respon yang positif bagi para mahasiswa. Nah, soal tema fiksi,
Valiant--penulis novel Joker-- diganjar beragam pertanyaan. Kesempatan
sharing dengan seorang penulis terkenal tidak disia-siakan oleh para
mahasiswa. Pertanyaan tentang tip menulis novel, cara mengumpulkan ide,
dan cara menembus penerbitan dijawab oleh Valiant dengan diselingi
banyolan-banyolan yang dapat mencairkan suasana.
Sedangkan Rosa dan Lukito yang duduk di bagian pojok juga tidak
henti-hentinya mendapatkan pertanyaan dari para mahasiswa. Para
mahasiswa bertanya tentang apa saja tema-tema yang dapat dijadikan
sebuah buku dan bagaimana cara menjadi penulis yang baik.
Yutika juga mendapat beberapa pertanyaan terkait buku Griya. Pertanyaan
tentang apa tema buku arsitektur yang layak terbit mendominasi
pertanyaan mahasiswa terkait buku Griya. Beberapa mahasiswa pun
tertarik membukukan tugas-tugas kuliahnya secara berkelompok. Sebagai
penutup, Dipo Tanudi merangkum semua informasi terkait penerbitan dan
penulisan buku sehingga memudahkan mahasiswa yang terlambat datang
dalam memahami tujuan forum.
Diadakannya forum ini di kalangan kampus diharapkan dapat
mensosialisasikan dunia buku kepada para mahasiswa. Mahasiswa sebagai
generasi penerus yang kritis terhadap laju informasi adalah aset
berharga dalam penulisan. Kreativitas dan pemikiran mereka akan semakin
mewarnai buku-buku yang akan beredar. Kita tunggu aksi para mahasiswa
UNDIP.
|
|
Last Updated ( Thursday, 05 June 2008 )
|
|
Strategi dan Kiat Sukses
 Judul : Awas! Jangan Sampai Modar di Pasar Modal Penulis : Budi Purnomo & Maxi A. Perajaka Ukuran : 11,5 x 19 cm Tebal : 124 halaman Kategori : Nonfiksi—bisnis Harga : Rp23.000,- Sinopsis: Inilah asyiknya bermain saham: cukup telepon atau browsing di internet, menunggu santai di rumah, dan keuntungan pun akan datang dengan sendirinya. Walaupun begitu, berinvestasi dalam bentuk saham—seperti jenis investasi lainnya—tak luput dari risiko. selengkapnya
|

|
|
Profil Penulis
Salim Kartono mengawali karier sebagai salesman di sebuah perusahaan elektronik di Medan. Pada 1976, Salim Kartono hijrah ke Jakarta. Ia bekerja sebagai Assistant Marketing Manager di Telesonic Group, kemudian diteruskan di PT Wijaya Indonesia Plastic Industry sebagai direktur. Pada 1983, langkah emasnya dimulai.
|
|
Read more...
|
Benny G. Setiono, dilahirkan di Desa Ceracas, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan Jawa Barat pada 31 Oktober 1943. Pada 1947, rumahnya dibakar oleh gerombolan yang menamakan diri sebagai laskar rakyat dan kakeknya menjadi korban pembunuhan laskar Hisbullah. |
|
Read more...
|
|