Perkenalkan saya seorang fresh graduate dengan latar belakang pendidikan marketing management. Saya pernah membaca buku pak Ari yang berjudul "Modal Dengkul Untung Sebakul". Buku ini semakin memotivasi saya untuk mewujudkan rencana-rencana saya ke depan. Saya berencana menjalankan bisnis di bidang penerbitan dengan menerbitkan buku-buku dari para penulis yang suatu saat nanti saya harap bisa best seller.Saya juga berharap buku-buku yang saya terbitkan nanti bisa beredar di seluruh toko buku. Saat ini, saya memiliki kenalan percetakan dan insya Allah ada yang bersedia menyediakan modalnya.Pertanyaan saya:
Langkah-langkah apa saja yang harus saya jalankan dalam memulai usaha ini? Jenis promosi apa yang paling efektif dalam mempromosikan buku-buku yang ingin saya terbitkan nanti? Bagaimana teknik lobi yang baik agar buku yang saya terbitkan nanti bisa masuk ke toko-toko buku terkenal seperti:Gramedia, Karisma, dll? Sebelumnya, terima kasih banyak atas jawabannya. Smoga Pak Ariyanto sukses selalu!
Apa kabar…. baik ya….semoga lancar dan sukses selalu, perkenalkan nama saya Lukman.
Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan.
1. Kapan suatu usaha bisa di waralabakan atau di franchisekan. 2. Apa nunggu usaha tsbt punya nama dan terkenal. 3. Bidang saya dimakanan yaitu Nasi Goreng. 4. Saya optimis sebab menurut saya Nasgor saya pertama di Indonesia. 5. Kenapa saya pilih Nasgor menurut saya Nasgor sudah meng- Indonesia. 6. Saya sudah memulai usaha Nasgor 3 tahun yang lalu, tahun pertama di Sby, tahun kedua dan ketiga di Malang dan sekarang saya pindah ke Jakarta juga buka Nasgor tepatnya disebelah Ace Hardware Fatmawati Jak-Sel. 7.Ada beberapa kreasi dan inovasi yang saya dapatkan selama berjualan Nasgor, dan belum saya expose. Saya masih cari moment yg pas. 8. Apa harus di Jkt utk sentral produksinya (dekat pasar yg potensial dgn asumsi daya beli OK), menurut saya di Malang bahan baku lebih murah dan lengkap (komponen produksi). 9. Saya optimis kalau produk Nasgor ini dilounching pasti banyak yang mengikuti,bagamana untuk mengatasi hal tersebut. apa saya harus cari investor yg mampu utk backup dana bila terjadi persaingan agar bisa mempertahankan the first, the best and different.
Sekian matur suwon.
Lukman lukman_baitang@XXXX
--------------------
Salam Sukses pak Lukman... Terimakasih atas perhatiannya. Insya Allah saya akan sempatkan buat mampir di rumah makan Nasi Goreng bapak. Kebetulan saya juga penggemar wisata kuliner. Saya sangat senang berburu makanan-makanan unik. Kapan-kapan saya pasti mampir ke tempat bapak. Sehubungan dengan pertanyaan bapak:
Kapan sebuah usaha bisa di waralaba kan ?. Apa harus menunggu terkenal dulu ?
Sebuah usaha bisa di franchise kan apabila: a. Memiliki Uniqes (ciri khas yang unik), b. Sudah terbukti menguntungkan, c. Mudah diduplikasi oleh mitra usahanya, d. Memiliki cash flow usaha yang baik selama 2 tahun (minimal).
Jadi menurut saya tidak harus menunggu nama tersebut terkenal terlebih dahulu bari di franchise kan. Namun demikian, sebuah usaha yang sudah memiliki nama besar tentu akan lebih mudah untuk mendapatkan mitra waralaba, karena salah satu tujuan orang bergabung menjadi mitra waralaba adalah ingin agar usaha yang dibuka langsung laku. Jadi tidak perlu merintis dan memperkenalkan nama usahanya kepada publik. Itulah mengapa banyak perusahaan waralaba besar yang berani menetapkan harga mahal bagi brand produknya. Misalnya 500 juta untuk penggunaan merek selama 5 tahun. Itu karena mereka yakin bahwa dengan merek yang sudah terkenal itu, mitra waralaba akan mendapatkan keuntungan ganda ketika membuka usahanya. Karena dia bergabung menjadi mitra waralaba dari sebuah perusahaan yang sudah memiliki nama besar.
Bapak bisa menunggu sampai nama usaha bapak terkenal atau bisa juga mulai memasarkan waralaba bapak dari sekarang sambil mengupayakan agar usaha bapak menjadi makin terkenal. Dengan makin "besar" nya nama usaha bapak. Maka akan makin mudah pula bagi bapak untuk mendapatkan mitra waralaba. Dan makin besar pula potensi uang joint fee atau franchisee fee yang bisa bapak dapatkan. Karena orang tidak akan sayang keluar uang puluhan hingga ratusan juga untuk bisa menggunakan merek yang sudah terkenal.
Haruskah sentral produksinya di Jakarta ?
Menurut saya tidak harus. Justru pada saat ini banyak pengusaha waralaba yang memindahkan sentral bisnisnya (terutama dalam hal produksi) ke luar Jakarta. Kenapa?. Karena mereka ingin effisiensi. Kita tahu kan, biaya produksi di Jakarta sangatlah tinggi, seperti biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya-biaya operasional lain. Makanya saya juga setuju jika banyak pengusaha waralaba mengalihkan kegiatan produksinya di daerah untuk menekan biaya produksi. Karena didaerah biaya bisa ditekan lebih rendah. Namun demikian untuk kegiatan pemasaran tetap saya sarankan menggunakan Jakarta sebagai "base" nya. Karena di Jakarta akses ke semua media (khususnya media nasional) lebih mudah dan cepat. begitu juga dengan urusan birokrasi yang sifatnya nasional, Jakarta lebih menguntungkan ketimbang didaerah. Karena pada di bisnis waralaba, makin besar lingkupnya akan makin menarik. Oleh karena itu bapak harus mensett bisnisnya dalam skala nasional. Dan itu akan menarik orang-orang daerah untuk menjadi mitra waralaba.
Jadi menurut saya. Jika saat ini bapak sudah merasa mantap dengan menu-menu spesial yang bapak miliki. Dan bapak yakin bahwa menu-menu tersebut unik dan menarik. Maka segera saja bapak bikin konsep waralabanya. Mulai dari business plan hingga SOP (Standart Operating Procedure nya). Untuk nama bapak bisa pilih yang menarik perhatian orang (usahakan tidak lebih dari 3 kata. satu atau dua kata juga cukup bagus). Kemudian bapak juga harus mempersiapkan SDM khusus buat menangani dan menjalankan konsep waralaba tersebut. Karena kita tahu bahwa konsep bisnis waralaba memiliki potensi keuntungan yang berlipat ganda dan bapak bisa memiliki berbagai sumber penghasilan seperti: 1. pendapatan dari biaya joint fee / franchise fee, 2.pendapatan dari royalti fee,3.keuntungan dari penjualan peralatan, 4. Keuntungan dari penjualan bahan baku, 5.Keuntungan dari biaya training, dan sebagainya. Namun demikian karena menyangkut banyak orang. Maka potensi timbulnya masalahpun juga banyak setidaknya tiap 1 cabang waralaba memiliki 1 potensi masalah yang bisa timbul setiap saat. Nah, sebagai pengusaha waralaba hal-hal seperti itulah yang harus bapak siapkan dan antisipasi.
Haruskan mencari investor ?
Kalau bapak sudah memiliki modal kerja dan dana cadangan yang cukup saya rasa tidak perlu lagi mencari investor. karena bapak bisa meng-optimalkan dana yang bapak miliki saja. Mungkin suatu saat nanti bapak butuh untuk pengembangan usaha. Misalnya membuka Restauran Nasi Goreng dalam skala besar, baru bapak memikirkan kehadiran investor. Sementara waktu saya sarankan bapak cari saja investor-investor untuk menjadi mitra usaha bapak dalam artian sebagai mitra waralaba saja. Karena dengan cara ini bapak akan bisa membuka banyak cabang di banyak tempat tanpa mengeluarkan uang seperserpun dan bahkan bapak bisa mendapatkan banyak pendapatan dari cabang-cabang baru yang dibuka oleh mitra bapak.
Semoga jawaban saya cukup memadai. Jika ada pertanyaan lain silakan bapak kirim e-mail lagi. Atau suatu saat nanti kita bisa bertemu untuk mendiskusikan usaha bapak. Salam Sukses !!!
Ariyanto M.B.
Beri Aku Jalan [pertanyaan pembaca Modal Dengkul]
Ditulis Oleh Administrator
Friday, 02 January 2009
Kepada Yth Mas Ariyanto
Kami seorang karyawan, beri kami jalan keluar untuk bisa usaha sendiri Sebagai catatan, usaha sambpingan kami:
1. Susu Kedelai 2. Toko MAPAN jual barang listrik dan elektronik
Namun kedua usaha sampingan kami belum mencukupi, dan kami belum cukup berani meninggalkan karier saya sebagai karyawan.
Terimakasih.
Hormat kami, Pudjo Hartono
__________________________________
Yth.Bapak Pudjo
Terimakasih atas perhatian dan kesediaannya membaca buku saya. Insya Allah buku tersebut akan bermanfaat bagi usaha bapak. Sebenarnya dengan posisi bapak sebagai seorang karyawan dan kemudian memiliki usaha sampingan Susu Kedelai dan Toko Elektronik itu sudah cukup bagus. Artinya bapak sudah berhasil melewati ujian tahap awal, yaitu Berani Mulai dan Berani Berproses. Namun perlu saya sampaikan bahwa jika usaha tersebut "hanya" lah sampingan. Maka potensi penghasilannya maksimal adalah 3 x - 5 x lipat dari pendapatan bapak sebagai karyawan. Kalau bapak full time mengelola bisnis, maka potenso penghasilannya menjadi tidak terbatas lagi. Terutama jika bapak menerapkan sistem waralaba / franchise dalam bisnis bapak.
Yah, masalah saat ini bapak belum merasakan hasil yang signifikan itu adalah persoalan lain. Ada beberapa hal yang mungkin bisa bapak jadikan sebagai bahan evaluasi:
1. Apakah selama ini Managemen keuangan di usaha sampingan bapak sudah terpisah antara pendapatan pribadi dengan pendapatan usaha?. Begitu juga dengan pengeluarannya. Apakah sudah terpisah antara pengeluaran pribadi dengan pengeluaran usaha. Jika sampai dengan saat ini keduanya masih tercampur. Sebaiknya segera dipisahkan. Supaya bapak bisa mengetahui sebenarnya usaha bapak itu untung apa rugi.
2. Apakah selama ini bapak hanya memakan "buah"nya saja?. kalau iya. Berarti itu sudah benar. karena banyak pengusaha yang secara disadari ataupun tidak suka memakan "pohonnya" artinya modal yang harusnya dikelola justru digunakan untuk keperluan pribadi. itu yang menyebabkan banyak usaha tidak bisa bertahan lama.
3. Apakah selama ini setiap masalah di usaha langsung diselesaikan?. Banyak pelaku usaha sampingan yang mengabaikan penyelesaian masalah dengan cepat. Akibatnya masalah yang sebenarnya kecil menjadi besar dan bahkan menjadi "duri dalam daging" di usahanya. Oleh karena itu setiap ada masalah sekecil apapun sebisanya segera diselesaikan.
4.Apakah selama ini "terjebak" dalam rutinitas semata?. Ini juga penting untuk dilihat, karena jika seorang pengusaha hanya berkutat dalam hal-hal teknis dan monoton, maka usaha pasti tidak akan bisa berkembang. Oleh karena itu jika usaha sudah berjalan sebaiknya segera delegasikan wewenang kepada orang lain. Dan kita selaku pemilik usaha tinggal menjalankan mekanisme kontrol dan berpikir pengembangan saja.
Masalah bapak sekarang masih menjadi karyawan sebenarnya tidak masalah. Sebaiknya memang bapak menguatkan dahulu pondasi keuangan yang ada. Setidaknya bapak harus memiliki dana cadangan untuk keluarga dan dana cadangan untuk bisnis setidaknya untuk 1 tahun pertama. Saran saya, tidak perlu buru-buru memutuskan keluar dari pekerjaan sekarang untuk berbisnis. Perkuat posisi keuangan keluarga terlebih dahulu. Kemudian cadangkan dana operasional untuk 1 tahun usaha berjalan (anggap saja selama 1 tahun bisnis belum menghasilkan). nah, setelah itu silakan jika bapak ingin full 100% berbisnis. karena hanya dengan jalan bisbinislah potensi penghasilan tak terbatas bisa kita dapatkan. Saya tidak menyarankan bapak untuk buru-buru meninggalkan posisi karyawan, karena pada kenyataannya bisnis itu membutuhkan proses. dan proses itu membutuhkan kesiapan mental baik dari pelakunya sendiri maupun dari keluarganya. Sekian dulu pak. Semoga bermanfaat. Salam Sukses !!!
Berbekal gelar D3 Teknik Sipil Universitas Katholik Parahyangan Bandung, Yusep Arif R. Kamaludin kemudian melanjutkan jenjang pendidikannya ke program S1 Teknik Arsitektur ITENAS. Kecintaan dan kemahirannya dalam dunia rancang bangun tidak lantas berhenti pada tataran pendidikan saja. Ia pun menuangkan segala ide dan kreativitasnya melalui bangunan-bangunan gedung ataupun rumah yang telah dibuatnya.
Salim Kartono mengawali karier sebagai salesman di sebuah perusahaan elektronik di Medan. Pada 1976, Salim Kartono hijrah ke Jakarta. Ia bekerja sebagai Assistant Marketing Manager di Telesonic Group, kemudian diteruskan di PT Wijaya Indonesia Plastic Industry sebagai direktur. Pada 1983, langkah emasnya dimulai.